BuayaLaerisa Kayeli: Cerita Rakyat dari Maluku . Book. oleh Asrif Terbitan: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 Terbitan: Kantor Bhs Propinsi Sulawesi Tenggara, 2015 Available online: Get online. Favorit. Tersimpan di: Penggunaan Bahasa Indonesia masyarakat transmigrasi di Kecamatan Lasalimu Selatan Kabupaten Buton
Cerita"Buaya Laerisa Kayeli" yang ditulis oleh Asrif berasal dari daerah Maluku. Cerita ini mengisahkan tentang seekor buaya bertubuh besar dan berekor panjang yang hidup di Sungai Laerisa Kayeli, Pulau Haruku, Ambon. Buaya itu adalah buaya yang baik dan suka menolong warga untuk menyebrang sungai. Warga pun membalas budi baik buaya dengan
Dankami senang ketika mendengar ada yang memujinya," kata Kim dikutip dari VOI, Rabu, 3 Agustus. "Seperti judulnya 'Yumi's Cells', saya ingin pesan yang tersampaikan bahwa hidup Yumi adalah miliknya. Meski dia melewati banyak hal, saya ingin membesarkan hatinya bahwa 'kau mungkin membuat kesalahan dan punya penyesalan tapi kamu
Budayakeris terbentang dari Ujung pulau Sumatra di barat, Semenanjung Siam dan Sulu di Utara, Gugusan kepulauan Maluku di Timur dan Kepulauan Nusa Tenggara di Selatan. Keris menjadi identitas pengikat yang mendorong rasa kebangsaan itu tumbuh subur di Nusantara. Perahu layar tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Menurut cerita di dalam
Disini wisatawan bisa diving untuk menikmati keindahan beragam jenis biota laut yang juga menjadi ikon pariwisata dari Maluku Tenggara. Kedua, Pantai Yenroa yang mempunyai pemandangan terbaik dengan taludnya di pesisir. Di sini kamu dapat melihat dan merasakan sendiri dua keunikan alam yang ditawarkan yaitu saat air pasang dan surut.
BatuBadaong adalah cerita rakyat yang berasal dari Maluku dan Maluku Utara. [8] Batu Badaong adalah nama dari Maluku, sedangkan di Maluku Utara cerita ini bernama Batu Belah. [8] Di sebelah utara kepulauan Maluku, tepatnya di daerah Tobelo hidup sebuah keluarga nelayan di rumah yang berdinding daun Rumbia. [8]
Tarianini mengisahkan cerita rakyat tentang cinta putri raja yang masuk batu dan rakyat memohon agar sang putri kelaur dari dalam batu tersebut. Kesenian tari di Sulawesi Tenggara biasanya diiringi oleh beragam alat musik tradisional, seperti kecapi, kendang dan flutes. Selain itu, budaya tradisional yang berkembang di masyarakat juga
Cerita"Ayam Jantan dari Timur" bersumber pada Hikayat Hasanuddin. Cerita ini mengandung nilai-nilai moral dan ajaran kehidupan yang perlu dikenalkan kepada anak-anak. Bagaimana perjuangan Sultan Hasanuddin melawan penjajah Belanda dan bagaimana Belanda memecah belah keberadaan masyarakat Indonesia, dapat dilihat dalam cerita ini.
TimSAR gabungan mengevakuasi penumpang speedboat yang tenggelam di Peraiaran Maluku Tenggara, Senin (21/2/2022). Dalam insiden kecelakaan itu enam oenumpang meninggal dunia dan 19 lainnya selamat Cerita Rakyat Sunda. Regional. 27/07/2022, 22:19 WIB. Mengeluh Masih Ada Pungli di Jalan, Sopir Truk se-Banyumas Raya Mengadu ke Ganjar. Regional.
AMANNUNUSAKU (Cerita Rakyat Pulau Seram, Maluku) 08.05.00. Mollucastimes.Com- Kata NUNUSAKU mungkin tak asing lagi di telinga masyarakat Maluku, walaupun kata itu begitu familiar untuk masyarakat Maluku, namun bukan berarti seluruh masyarakat Maluku dan Pulau Seram tahu apa itu makna dari Nunusaku. Kali ini Mollucastimes akan mengupas Legenda
sfCokg5.
- Danau Tolire Merupakan salah satu objek wisata di Ternate, Maluku Utara. Danau Tolire berada di kaki Gunung Gamalama berjarak sekitar 10 km dari pusat keramaian di Ternate. Danau Tolire terbagi menjadi dua jenis, yaitu Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Tolire Kecil berjarak sekitar 200 m dari Tolire Besar. Selain ramai dikunjungi oleh wisatawan, danau ini menyimpan kisah menarik mengenai asal usulnya dalam budaya tradisi lisan masyarakat Maluku. Baca juga Carita Rakyat Batu BaliangAsal Usul Danau Tolire Menurut cerita rakyat Maluku, dulunya danau ini adalah sebuah perkampungan. Perkampungan ini bernama Tolire. Masyarakatnya hidup dengan sejahtera dan berpegang teguh dengan adat istiadat kampung. Ritual-ritual keadatan dijalankan dengan khidmat dan seksama oleh masyarakat Tolire setiap harinya hingga sampai pada suatu perhelatan. Suatu ketika, kampung Tolire mengadakan pesta besar bersama seluruh masyarakatnya, tanpa terkecuali para tokoh-tokoh adat setempat. Hidangan makanan beserta alunan musik biola mengiringi jalanannya pesta besar di kampung Tolire.
23/11/2021Ada sebuah desa bernama Adodo berada di Pulau Fordata, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Alkisah, di desa Adodo itu hiduplah sebuah keluarga bangsawan dari marga Werluka. Suami istri itu memiliki seorang anak laki-laki bernama Tameru dan seorang anak perempuan bernama Inkelu. Sesuai adat istiadat di desa Adodo, seorang anak perempuan bangsawan tidak boleh keluar rumah sampai ia berusia dewasa. Inkelu pun demikian. Menurut cerita, Inkelu adalah gadis yang sangat cantik. Meskipun begitu, belum ada warga desa yang pernah melihat wajahnya. Suatu hari, ketika Inkelu menginjak usia lima belas tahun, ia mengajukan permohonan kepada ayahnya. "Ayah, aku ingin sekali pergi ke pantai. Bukankan aku sudah cukup dewasa untuk dapat keluar rumah?" bujuk Inkelu. "Apa yang kau katakan? Usiamu baru lima belas tahun. Kau belum cukup dewasa untuk keluar rumah! Nanti saja ketika usiamu tujuh belas tahun," sanggah si ibu. "Tapi, aku pikir Inkelu sudah dapat menjaga dirinya sendiri," kata ayahnya. "Tapi, ingatlah Inkelu, kau tidak boleh keluar rumah sendirian. Kau harus pergi ditemani para pelayan," pesan si ayah. "Baiklah, aku akan menjaga diri dan membawa para pelayan untuk menemaniku pergi ke pantai," ucap Inkelu bahagia. Sebelum pergi, Inkelu berpesan kepada ketujuh pelayannya untuk tidak lupa membawa bekal dan bakul-bakul kosong. Bakul itu akan ia gunakan untuk wadah kerang-kerang ataupun kepiting yang akan ditangkapnya di laut. Tidak berapa lama, pergilah Inkelu bersama tujuh pelayannya ke pantai sambil membawa bakul-bakul kosong. Ia sangat bahagia bisa keluar rumah. Wajahnya berseri-seri. Inkelu berlarian menangkap kerang-kerang dan kepiting. Para pelayan pun tampak bahagia menemani Inkelu. Tidak terasa, beberapa bakul sudah terisi penuh dengan kepiting dan kerang. "Aku pikir kerang-kerang dan kepiting di sini sudah habis. Sebaiknya kita mencari tempat lain. Pergilah kalian ke timur. Aku akan pergi ke barat mencari kerang," ucap Inkelu kepada para pelayannya. "Tapi, Tuan Putri tidak boleh pergi sendirian. Biarlah salah satu dari kami menemani Tuan Putri," ucap salah seorang pelayan. "Sudahlah. Aku sudah dewasa untuk bisa menjaga diri sendiri. Kalian tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku. Kalian bersenang-senanglah. Nanti, setelah sore, kita berkumpul lagi di sini," perintah Inkelu. "Tapi, Tuan Putri...," sahut pelayan lainnya. "Tidak ada tapi-tapi. Sudahlah, aku ingin sendirian. Kita akan berkumpul kembali di sini," potong Inkelu. Meskipun para pelayan itu tidak ingin meninggalkan tuannya, mereka tidak dapat membantah keinginan Inkelu. Akhirnya, mereka melakukan perintah Inkelu dengan membiarkan Inkelu bermain sendirian di barat, sedangkan mereka pergi ke timur. Inkelu sangat senang bisa menikmati keindahan pantai sendirian tanpa ditemani para pelayan. Tanpa terasa, ia telah terpisah jauh dengan para pelayannya. Inkelu kemudian mencari-cari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat sebuah batu besar datar yang letaknya agak ke tengah laut. Ia pun pergi ke batu itu dan beristirahat di atasnya. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian berlari dan membungkuk mencari kerang serta kepiting. Inkelu berbaring di atas batu besar yang hangat terkena pancaran sinar matahari. Entah dari mana, tiba-tiba saja di hadapannya sudah ada seorang pemuda yang sangat tampan. Selain ayah dan kakak lelakinya, ia tidak pernah bertemu dengan laki-laki manapun. Inkelu sangat bahagia bercakap-cakap dengan lelaki asing itu. Walaupun baru kenal saat itu, mereka sudah terlihat sangat akrab. Inkelu terkejut lagi ketika pemuda tampan yang baru ditemuinya itu tiba-tiba menghilang. Karena sudah seharian bermain di pantai, perutnya mulai terasa lapar. Ia pun pergi ke tempat ia berjanji bertemu dengan para pelayannya. Ternyata, di sana para pelayannya sudah menunggu dengan hati cemas. "Apa kalian tidak lapar?" tanya Inkelu. "Kami memang lapar. Tapi kami tidak berani untuk makan lebih dulu sedangkan Tuan Putri belum tiba," sahut pelayannya. "Kalau kalian lapar, sebaiknya kalian makan lebih dulu. Ya sudah, ayo kita makan bersama!" ucap Inkelu. Inkelu dan para pelayannya kemudian saling bertukar cerita tentang apa yang mereka alami selama bermain di pantai. Namun, Inkelu tidak pernah mengatakan kepada siapa pun tentang pertemuannya dengan pemuda tampan di pantai. Semenjak pertemuannya dengan pemuda asing di pantai, Inkelu merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya. Meskipun demikian, ia tidak menceritakan kejadian yang dialaminya bersama pemuda itu kepada siapa pun. Namun, sepulang dari pantai, ia tampak murung dan lebih pendiam. Orangtuanya tidak mengetahui apa yang sebenarnya menimpa buah hati mereka. Setiap pertanyaan yang dilontarkan kedua orangtuanya, Inkelu lebih senang untuk bungkam. Karena merasa heran dengan tingkah laku anaknya, bangsawan itu menanyakan kepada pelayan Inkelu apa sebenarnya yang terjadi di pantai. Tapi, tidak seorang pun dari mereka yang tahu penyebab perubahan sikap Inkelu. Tiga bulan telah berlalu. Betapa terkejutnya orangtua Inkelu ketika mengetahui putri tercintanya telah hamil. Kedua orangtua itu sangat bingung, bagaimana mungkin putrinya yang belum menikah dan selalu berada dalam pengawasan mereka tiba-tiba hamil. Mereka ingat, satu-satunya waktu di luar pengawasan mereka adalah ketika Inkelu pergi ke pantai. Tapi, berkali-kali ditanya siapa lelaki yang telah kurang ajar kepada Inkelu, berkali-kali pula Inkelu hanya diam tidak menjawab sepatah kata pun. "Kurang ajar. Siapa laki-laki kurang ajar yang berani menghamili putriku?" tanya ayah Inkelu. Berita kehamilan Inkelu telah menyebar dengan cepat. Entah siapa yang membongkar aib itu, tetapi seluruh penduduk desa telah mengetahui bahwa Inkelu telah hamil. Betapa malunya keluarga bangsawan itu. Akhirnya, untuk menebus rasa malu, Inkelu dihukum tidak boleh tidur di kamar. Hal ini dilakukan untuk mendesak agar Inkelu mau berterus terang siapa pemuda yang telah menghamilinya. Tapi, rencana itu ternyata tidak berhasil juga. Bulan berganti bulan. Inkelu pun melahirkan anaknya. Namun, betapa terkejutnya ketika bayi yang lahir dari Inkelu bukanlah anak manusia, melainkan seekor anak hiu berwarna putih. Berita itu kemudian menyebar ke seluruh desa. Namun, ada hal yang aneh pada bayi hiu itu ketika diletakkan di dalam air, ia tidak mau tengkurap seperti layaknya ikan. Bayi hiu itu tetap pada posisinya yang terbaring dengan perut menghadap ke atas. Kemudian, ayah Inkelu bermusyawarah dengan para tetua desa. Akhirnya, disepakatilah untuk mengumpulkan semua pria di daerah itu dan menyelidiki siapa ayah dari bayi hiu itu. Namun, usahanya sia-sia saja. Jejak pemuda itu tidak ditemukan. Lalu, ayah Inkelu memanggil seorang dukun untuk menyelidikinya. Setelah sekian lama didesak, akhirnya Inkelu terpaksa membuka mulutnya. Ia menceritakan tentang pertemuannya dengan seorang pemuda di pantai setahun yang lalu. "Hmm...kalau begitu berarti pemuda itu adalah makhluk halus. Kau pasti sudah menghirup napasnya. Inilah yang menyebabkan kau hamil," ucap sang dukun. Atas petunjuk Inkelu, pergilah para penduduk desa ke batu datar tempatnya beristirahat setahun yang lalu. Benar saja, ketika bayi hiu itu diletakkan ke dalam air dekat batu datar, hiu kecil itu dapat membalikkan badannya dan dapat berenang dengan normal seperti ikan pada umumnya. "Berarti benar, ayah bayi hiu ini berada di tempat ini," ucap sang dukun. Semua penduduk mengangguk-angguk. Tidak ada lagi dari mereka yang mencemooh Inkelu. Para penduduk desa justru merasa kasihan kepada Inkelu karena kemalangannya itu. Malam harinya, Tameru, kakak kandung Inkelu bermimpi bertemu dengan ikan hiu kecil kemenakannya. "Paman Tameru, tahun depan aku akan berumur satu tahun. Pada hari itu, aku harap paman datang ke dekat batu datar di pantai karena di situlah rumahku. Tapi, jangan lupa paman harus membawa sepiring nasi putih dan kuning telur rebus sebutir. Setelah itu, taburkanlah di sana sambil memanggilku. Ingatlah, yang memasak nasi itu harus Ni Lohat Ra adik perempuan nenek tidak boleh digantikan oleh siapapun. Paman harus datang sendiri atau boleh ditemani seorang saudara laki-laki yang masih ada hubungan kekerabatan. Tidak boleh ada wanita yang datang apalagi wanita hamil," pesan hiu kecil itu dalam mimpi. Setahun kemudian, Tameru memenuhi pesan hiu kecil kemenakannya. Ia melaksanakan semua pesan yang ada dalam mimpinya dengan baik hingga tidak satu pun yang terlewatkan. Dengan ditemani saudara laki-laki, Tameru pun pergi ke pantai dekat batu datar. Malam harinya, Tameru kembali bertemu dengan ikan hiu itu. Kini usianya telah satu tahun. Tubuhnya tidak lagi kecil seperti dulu. Tubuhnya sudah sebesar perahu. Ia berterima kasih karena Tameru telah melaksanakan permintaannya dengan baik. Sejak saat itu wanita hamil pantang mengunjungi pantai sebelah barat. Dan pada bulan Juni, di dekat alur laut yang di sebut Nam Dabdubal, banyak sekali ikan hiu yang berkumpul di tempat itu. Saat ini, di desa Adodo masih terdapat orang yang sudah botak sejak lahir dan bergigi halus dan tajam seperti hiu. Konon, itu adalah akibat dari ibu mereka yang melanggar pantangan untuk tidak pergi ke pantai sewaktu hamil. Pesan Moral Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu patuh akan nasihat orangtua. Jangan mencoba untuk melanggar semua petuah yang diberikan oleh orangtua. Sebab, ada hal yang baik di balik semua petuah ataupun larangannya.